Rss

Sabtu, 14 Mei 2016

DEWI SARTIKA

Tentang Kisah 4 Hari


            Euforia pengkaderan memuncak pada hari ini, Ahad, 01 Maret 2016. Coba saja lihat diriku dan mereka. Penampilan segar dari wajah-wajah cerah berlabel cakep tetiba menjelma menjadi lumpur bernyawa. Warna hitam-orange pakaian dengan sekejap menjadi uniform berwarna tanah. Kami berseragam lumpur :D tak cukup sampai disitu, I mean, tidak sesederhana itu. Untuk membuktikan loyalitas dan kesiapan mental bergelar kader, ada banyak pos yang harus terlewati, latihan ala militer telah sempurna menyisakan bekas berupa capek keterlaluan, juga pegal berlebihan. Aihhh,, dari sini saya paham bahwa kadang-kadang harus ada zona tidak nyaman untuk membentuk generasi tangguh. Terima Kasih, SAPMA PP ^^
            Perihal SAPMA dan akar-akarnya, saya sama sekali tak paham, lebih-lebih mengenalnya. Satu-satunya yang saya tahu adalah bahwa organisasi ini terkenal dengan motif loreng hitam-orange. Hihihih, ada makna apakah gerangan dari kedua warna tersebut?! Next, mengenal SAPMA lebih jauh, saya terlibat percakapan singkat dengan seorang karib di bangku kuliah. Informasi yang saya tangkap darinya bahwa bulan ini ada pengkaderan. “Asyik!! Saatnya bergabung. Waktunya sudah pas kali ya!” Batinku. Berbekal semangat, saya mengajak beberapa teman untuk ikut serta menjadi kader SAPMA. Sayangnya, ada satu teman yang tidak bisa mengikuti pengkaderan tersebut. Jika awalnya, minat saya 100%, maka sungguh ketika tahu bahwa temanku itu tidak bisa bersama-sama kami dalam SAPMA, saya dilema. Tetapi karena desakan teman yang lain, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung.
            Satuan Siswa, Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (SAPMA PP) berhasil mengikat diriku melalui tali kader sejak hari pertama pengkaderan. Segalanya berjalan lancar, seperti rangkaian acara rekruitmen diseluruh organisasi. Berawal dari pembukaan, selanjutnya penerimaan materi. Huft!! Detik-detik, menit-menit, dan jam-jam yang menjemukan. Betapa membosankannya agenda duduk-duduk menerima materi seperti ini. Meski kuakui, materi-materi tersebut akan menambah pembendaharaan wawasanku.
            Hiksss. Saya melupakan sesuatu. Korem 141 Toddopuli, termasuk aulanya adalah area keren yang menuntunku dalam ketakjuban. Tuhan, jika semua manusia sedisiplin warga Korem, maka Bone Bersih Beradat tentu saja dapat dicapai dengan mudah. Sampai akhirnya Piala Adipura beralih ke Bone, tanah Arung Palakka.
            Kembali ke materi indoor, ada banyak materi yang disuguhkan. Kalau tidak salah, materi Retorika, Keorganisasian, Kemahasiswaan, Kepemimpinan, dan Sejarah Pancasila. Yang saya tahu pasti adalah tentang tugas resume dari materi-materi yang tidak saya ikuti. Yakni, Metode Persidangan dan Manajement Aksi. Tentu saja saya dapat tugas itu bukan sebagai hadiah, tetapi sebagai hukuman. Jangan tanyakan, “Dihukum Kenapa?” sebab saya pasti menjawab, “Hukuman karena rasa jemu dan bosan menyantap materi”. Hihihi,, tenang saja. Seperti yang tadi saya katakan, saya akan sangat membutuhkan materi-materi itu. Terima Kasih Sila ke-5 Pancasila, karena alasan keadilan, saya bisa ‘sedikit’ berlapang dada mengerjakan tugas ini. Bukankah tidak adil jika saya ‘dibebaskan’ dari hukuman begitu saja, padahal saya tidak menjalankan kewajiban sebagai peserta pengkaderan.?
            Tiga hari berlalu ditemani materi dan pemateri dengan beragam style presentasi. ^^ Sedikit lagi, saya akan sah menjadi kader SAPMA PP.
            Sampai jumpa, Korem! Tersimpan rapilah materi!! Kenang aku, pemateri!!^^ Meninggalkan aula Korem, saatnya berpacu dalam dunia fisik. Waktunya outdoor J Lemo Ape, jika boleh, saya menyebutnya sebagai The Mute Witness of An Adventure (Saksi Bisu untuk Sebuah Petualangan) adalah lokasi outdoor yang menyaksikan betapa susah payahnya kami untuk survive. Dengan wajah tersenyum, demi mengukuhkan diri dalam ikrar kader SAPMA PP. Kawan, setiap komandan adalah prajurit sebelumnya. Merayap, berguling, berendam hingga berjemur sejatinya merupakan resiko terindah bagi mereka prajurit-prajurit tangguh. Maka, semoga kamipun seperti prajurit tangguh yang tidak gentar dan tidak menjadi lemah hanya karena  rasa capek akibat merayap, berguling dan sebagainya. Rasa capek akan pergi seiring berlalunya hari. Isn’t it?? Akhirnya, matahari Ahad memancarkan terik semangat. Ia seakan ikut mendoakan kami agar kelak menjadi komandan hebat setelah perjalanan panjang sebagai prajurit tangguh. Esok akan tiba keadaan yang berubah, sama sepertiku yang telah dikukuhkan menjadi anggota SAPMA PP. Samar-samar terdengar suara, “Turun!” Lalu disusul, “Satu kesalahan! Dua kesalahan!” saya tersenyum. Rupanya, perintah “Turun” itu akan menjadi salah satu kenangan dari episode pengkaderan ini.
            Kepada senior, terima kasih sudah berbaik hati. Pelajaran yang indah bahwa peringai keras selalu ada kebaikan hati dibaliknya.
            Kepada teman seperjuangan, selamat bergabung. Mari tunjukkan loyalitas diri. Sebab peran kita dalam SAPMA untuk Negara, untuk Pancasila telah dimulai hari ini. Sejak kita telah tunai dikukuhkan. Pancasila Abadi!! Semangat Bhineka Tunggal Ika!!
            Terakhir saya sedang ingin menuliskan sila-sila Pancasila.
PANCASILA
1.    Ketuhanan yang Maha Esa.
2.    Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
3.    Persatuan Indonesia.
4.    Kerakyatan yang dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
5.    Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

SEKALI LAYAR TERKEMBANG SURUT KITA BERPANTANG

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Luar biasa cerpen.y ini pak ketua :D

Unknown mengatakan...

hahahah ie bahg...senior

Unknown mengatakan...

wah salah satu bakat yg harus dikembangkan

Posting Komentar

Movies

Movies Post

Diberdayakan oleh Blogger.

Sports

Music

Business

Games

Video

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Kategori

Movies

News

Latest News

Recent Post