Tentang Kisah 4 Hari
Euforia
pengkaderan memuncak pada hari ini, Ahad, 01 Maret 2016. Coba saja lihat diriku
dan mereka. Penampilan segar dari wajah-wajah cerah berlabel cakep tetiba
menjelma menjadi lumpur bernyawa. Warna hitam-orange pakaian dengan sekejap
menjadi uniform berwarna tanah. Kami berseragam lumpur :D tak cukup sampai
disitu, I mean, tidak sesederhana itu. Untuk membuktikan loyalitas dan kesiapan
mental bergelar kader, ada banyak pos yang harus terlewati, latihan ala militer
telah sempurna menyisakan bekas berupa capek keterlaluan, juga pegal
berlebihan. Aihhh,, dari sini saya paham bahwa kadang-kadang harus ada zona
tidak nyaman untuk membentuk generasi tangguh. Terima Kasih, SAPMA PP ^^
Perihal
SAPMA dan akar-akarnya, saya sama sekali tak paham, lebih-lebih mengenalnya.
Satu-satunya yang saya tahu adalah bahwa organisasi ini terkenal dengan motif loreng
hitam-orange. Hihihih, ada makna apakah gerangan dari kedua warna tersebut?!
Next, mengenal SAPMA lebih jauh, saya terlibat percakapan singkat dengan seorang
karib di bangku kuliah. Informasi yang saya tangkap darinya bahwa bulan ini ada
pengkaderan. “Asyik!! Saatnya bergabung. Waktunya sudah pas kali ya!” Batinku.
Berbekal semangat, saya mengajak beberapa teman untuk ikut serta menjadi kader
SAPMA. Sayangnya, ada satu teman yang tidak bisa mengikuti pengkaderan
tersebut. Jika awalnya, minat saya 100%, maka sungguh ketika tahu bahwa temanku
itu tidak bisa bersama-sama kami dalam SAPMA, saya dilema. Tetapi karena
desakan teman yang lain, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung.
Satuan
Siswa, Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (SAPMA PP) berhasil mengikat
diriku melalui tali kader sejak hari pertama pengkaderan. Segalanya berjalan
lancar, seperti rangkaian acara rekruitmen diseluruh organisasi. Berawal dari
pembukaan, selanjutnya penerimaan materi. Huft!! Detik-detik, menit-menit, dan
jam-jam yang menjemukan. Betapa membosankannya agenda duduk-duduk menerima
materi seperti ini. Meski kuakui, materi-materi tersebut akan menambah pembendaharaan
wawasanku.
Hiksss.
Saya melupakan sesuatu. Korem 141 Toddopuli, termasuk aulanya adalah area keren
yang menuntunku dalam ketakjuban. Tuhan, jika semua manusia sedisiplin warga
Korem, maka Bone Bersih Beradat tentu saja dapat dicapai dengan mudah. Sampai
akhirnya Piala Adipura beralih ke Bone, tanah Arung Palakka.
Kembali
ke materi indoor, ada banyak materi
yang disuguhkan. Kalau tidak salah, materi Retorika, Keorganisasian,
Kemahasiswaan, Kepemimpinan, dan Sejarah Pancasila. Yang saya tahu pasti adalah
tentang tugas resume dari materi-materi yang tidak saya ikuti. Yakni, Metode
Persidangan dan Manajement Aksi. Tentu saja saya dapat tugas itu bukan sebagai
hadiah, tetapi sebagai hukuman. Jangan tanyakan, “Dihukum Kenapa?” sebab saya
pasti menjawab, “Hukuman karena rasa jemu dan bosan menyantap materi”. Hihihi,,
tenang saja. Seperti yang tadi saya katakan, saya akan sangat membutuhkan
materi-materi itu. Terima Kasih Sila ke-5 Pancasila, karena alasan keadilan,
saya bisa ‘sedikit’ berlapang dada mengerjakan tugas ini. Bukankah tidak adil
jika saya ‘dibebaskan’ dari hukuman begitu saja, padahal saya tidak menjalankan
kewajiban sebagai peserta pengkaderan.?
Tiga
hari berlalu ditemani materi dan pemateri dengan beragam style presentasi. ^^
Sedikit lagi, saya akan sah menjadi kader SAPMA PP.
Sampai
jumpa, Korem! Tersimpan rapilah materi!! Kenang aku, pemateri!!^^ Meninggalkan
aula Korem, saatnya berpacu dalam dunia fisik. Waktunya outdoor J Lemo Ape, jika boleh, saya menyebutnya sebagai The Mute Witness
of An Adventure (Saksi Bisu untuk Sebuah Petualangan) adalah lokasi outdoor yang menyaksikan betapa susah
payahnya kami untuk survive. Dengan wajah tersenyum, demi mengukuhkan diri
dalam ikrar kader SAPMA PP. Kawan, setiap komandan adalah prajurit sebelumnya.
Merayap, berguling, berendam hingga berjemur sejatinya merupakan resiko
terindah bagi mereka prajurit-prajurit tangguh. Maka, semoga kamipun seperti
prajurit tangguh yang tidak gentar dan tidak menjadi lemah hanya karena rasa capek akibat merayap, berguling dan
sebagainya. Rasa capek akan pergi seiring berlalunya hari. Isn’t it?? Akhirnya,
matahari Ahad memancarkan terik semangat. Ia seakan ikut mendoakan kami agar
kelak menjadi komandan hebat setelah perjalanan panjang sebagai prajurit
tangguh. Esok akan tiba keadaan yang berubah, sama sepertiku yang telah
dikukuhkan menjadi anggota SAPMA PP. Samar-samar terdengar suara, “Turun!” Lalu
disusul, “Satu kesalahan! Dua kesalahan!” saya tersenyum. Rupanya, perintah
“Turun” itu akan menjadi salah satu kenangan dari episode pengkaderan ini.
Kepada
senior, terima kasih sudah berbaik hati. Pelajaran yang indah bahwa peringai
keras selalu ada kebaikan hati dibaliknya.
Kepada
teman seperjuangan, selamat bergabung. Mari tunjukkan loyalitas diri. Sebab peran
kita dalam SAPMA untuk Negara, untuk Pancasila telah dimulai hari ini. Sejak
kita telah tunai dikukuhkan. Pancasila Abadi!! Semangat Bhineka Tunggal Ika!!
Terakhir
saya sedang ingin menuliskan sila-sila Pancasila.
PANCASILA
1.
Ketuhanan yang Maha
Esa.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
3.
Persatuan
Indonesia.
4.
Kerakyatan yang
dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
5.
Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
SEKALI LAYAR TERKEMBANG
SURUT KITA BERPANTANG
3 komentar:
Luar biasa cerpen.y ini pak ketua :D
hahahah ie bahg...senior
wah salah satu bakat yg harus dikembangkan
Posting Komentar