Rss

Rabu, 28 Oktober 2015

SEJARAH NABI MUHAMMAD DARI LAHIR SAMPAI DEWASA


A.    Tahun Kelahiran Nabi Muhammad SAW(Kisah Raja Abraham menyerbu Mekkah)

 Bercerita tentang Abraham yg ingin menghancurkan ka’bah di ceritakan dalam q.s al-fil yg berbunyi:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1)

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2)

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3)

تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4)

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)

1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?

3. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,

4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,

5. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Surat Al-Fiil mengemukakan cerita pasukan bergajah dari Yaman yang dipimpin oleh Abraham yang ingin meruntuhkan Ka’bah di Mekkah. Peristiwa ini terjadi pada tahun Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Abraham Al-’Asyram (Arab أبرهة الأشرم, Abraham Al-Habsyi) adalah seorang gubernur dari Abyssinia (Kekaisaran Ethiopia) yang telah berhasil menaklukkan dan menjadi Raja Saba (Yaman). Penduduk Negeri itu menganut agama Nashrani. Abraham berkeinginan agar bangsa Arab pada saat itu untuk berhaji ke San’a, ibu kota Yaman, tidak ke kota Mekkah tempat Ka’bah berada. Untuk itu, dia membuat sebuah gereja/katedral yang bernama Al-Qullais. Tempat ibadah ini tiada bandingannya. Suatu saat, salah seorang dari suku Quraisy dari Mekkah ingin merendahkan kedudukan gereja ini dengan cara membuang hajatnya di gereja. Dia telah mengotori dinding gereja tersebut, kemudian melarikan diri.

Mengetahui hal ini, Raja Abraham sangat murka. Dia langsung memerintahkan pasukannya untuk menyerang kota Mekkah dan menghancurkan Ka’bah. Di antara pasukan tersebut terdapat tiga belas ekor gajah. Gajah terbesar bernama Mahmud.

Selama perjalanan mereka menuju Mekkah, banyak suku dari Bangsa Arab berusaha menghadang Abraham dan pasukannya, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil mengalahkan mereka. Akhirnya, Abraham pun mulai mendekat ke kota Mekkah. Pasukannya beristirahat di suatu tempat bernama Mughammis yang jauhnya beberapa mil dari Mekkah. Mereka merampas apa saja yang mereka temukan di perjalanan, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib, si penjaga Ka’bah. Abraham lalu mengirim utusan yang bernama Hunata, untuk menemui pemimpin penduduk di sana. Ia berpesan bahwa mereka datang bukan untuk berperang, melainkan hanya ingin untuk menghancurkan Ka’bah. Dan jika ingin menghindari pertumpahan darah, maka pemimpin Mekkah harus menemuinya di kemahnya.Pemuka kota yang mewakili penduduk Mekkah itu adalah Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW. Ketika Abraham melihat kedatangan Abdul Muthalib ke kemahnya, dia sangat terkesan, sampai turun dari singgasananya dan menyambutnya dan duduk bersama dia di atas karpet. Ia menyuruh juru bicaranya menanyakan kepada Abdul Muthalib permintaan apa yang hendak diajukan. Abdul Muthalib meminta agar 200 ekor untanya yang telah dirampas oleh pasukan Abraham agar dikembalikan.

Abraham sangat kecewa mendengarkan permintaan tersebut karena menganggap Abdul Muthalib lebih mementingkan unta-untanya ketimbang Ka’bah yang sedang terancam untuk dihancurkan.

Abdul Muthalib menjawab:

”Aku adalah pemilik unta-unta itu, sementara Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya”.

“Tapi sekarang ini Dia tak akan mampu melawanku”, Kata Abraham.

“Kita lihat saja nanti,” Jawab Abdul Muthalib, “Tapi kembalikan unta-unta itu sekarang”. Dan Abraham memerintahkan agar unta-unta tersebut dikembalikan.

Hasil perundingan itu adalah Abraham akan mengembalikan unta-unta Abdul Muthalib yang telah diambil oleh pasukannya. Adapun urusan penyerangan Kota Mekkah, maka ini tergantung keputusan yang akan diambil oleh Abraham sendiri.

Abdul Muthalib pun kemudian memerintahkan penduduk Mekkah untuk mengungsi dari kota tersebut, sementara Abraham memutuskan untuk melanjutkan niatnya. Pasukannya bergerak terus menuju kota Mekkah sampai ke Lembah Muhassir.

Dalam ekspedisinya, Abraham mempunyai seorang penunjuk jalan dari suku arab, bernama Nufail dari suku Khats’am. Belum sampai ke Ka’bah, pasukan tersebut dimusnahkan Allah. Allah SWT menampakkan kekuasaan-Nya, dengan mengutus burung-burung Ababil yang membawa batu yang bernama Sijjiil. Mereka telah terlambat, langit di ufuk barat menghitam pekat, dan suara-suara gemuruh terdengar dengan suara yang makin menggelegar, muncul gelombang kegelapan yang menyapu dari arah laut dan menutupi langit di atas mereka. Ketika pasukan itu sedang berada di tengah lembah, tiba-tiba muncul sekumpulan burung. Sejauh jangkauan pandangan mereka, langit dipenuhi beribu-ribu burung – tak terhingga jumlahnya. Orang-orang yang berhasil selamat menceritakan bahwa burung-burung tersebut secepat burung layang-layang dan masing-masing membawa tiga batu kecil yang membara, satu diparuhnya dan yang lain dijepit dengan cakar di kedua belah kakinya. Burung-burung tersebut menukik ke arah pasukan dan menjatuhkan batu-batu itu, yang kemudian meluncur keras dan cepat menembus setiap baju.

Setiap batu yang mengenai pasukan langsung mematikan. Mereka langsung jatuh terkapar dan tubuhnya langsung membusuk. Ada yang membusuk dengan cepat ada juga yang perlahan-lahan.Burung-burung tersebut menghujani pasukan Abraham dengan batu-batu kecil.Tidaklah batu itu menimpa tubuh pasukan Abraham, kecuali tubuhnya akan hancur tercerai-berai. Mereka binasa dengan keadaan yang mengenaskan.

Abraham Al-Ashram pun melarikan diri dalam keadaan tubuhnya hancur sepotong demi sepotong sampai dia meninggal di Yaman.Ini merupakan kemenangan yang Allah ‘Azza wa Jalla anugerahkan kepada penduduk Mekkah dan juga bentuk perlindungan Allah kepada rumah-Nya, yaitu Ka’bah di Mekkah.

B.     Nabi Muhammad SAW Pada Masa Kanak-Kanak

Setelah Nabi Muhammad lahir, oleh ibunya beliau diserahkan pada “Halimah Sa’diah” untuk disusukan, pada saat itu, bangsa Arab , mempunyai adat kebiasaan menyusukan anak-anaknya kepada perempuan des. Hal ini bertujuan agar anak-anaknya dapat tumbuh dilingkungan pedesaan yang  udarahnya masih bersih. Empat tahun lamanya beliau tinggal bersama ibu susunya di sebuah dusun Bani sa’ad.

Ketika berumur 6 tahun, Nabi Muhammad telah kembali bersama ibundanya. Oleh beliau, setiap tahunnya Nabi diajak pergi ke Madinah untuk berziarah ke makam ayahandanya sekaligus bersilahturahmi ke rumah sanak saudaranya. Dalam perjalanan pulang, di suatu tempat bernama Abwa’ (sebuah desa yang terletak antara mekkah dan madinah), ibundanya jatuh sakit lalu meninggal disana.

Sejak saat itu, Nabi  yang telah menjadi yatim piatu diasuh oleh kakeknya yang bernama “Abdul Muthalib”. Kakeknya ini seorang terkemukaka di kota makka dan beliau sangat menyayangi cucunya. Bahkan nama Muhammad adalah pemberian beliau yang artinya “ orang yang terpuji”. Tapi sayang,  kasih sayang itu tidak lama dirasakan oleh nabi. Karena setelah dua tahun kemudian kakek beliau meninggal. Kemuudian Nabi Muhammad SAW diasuh oleh pamannya ‘Abu talib’.

 

C.     Nabi Muhammad  SAW Menjadi Pengembala dan Pedagang

 

Sebagai anak yatim piatu yang miskin yang ikut pamannya Abu Thalib yang juga tidak kaya, beliau berusaha untuk membantu meringankan beban pamannya mencari tambahan penghasilan apa saja yang halal. Salah satunya yang tercatat dalam sejarah adalah bekerja sebagai penggembala kambing milik kerabat dan tetangga.Nabi Muhammad menggembala kambing milik kerabat dan orang-orang Makkah ke sekeliling gurun untuk merumput. Gaji yang didapatnya akan diberikan pada pamannya.

Pada saat menggembalakan kambing itu, Muhammad SAW memperlakukan kambing-kambingnya dengan “perikehewanan”. Saat berada di padang rumput yang luas pun Muhammad SAW mendapatkan banyak inspirasi dari alam semesta yang damai berkat ciptaan-Nya. Beliau benar-benar mengagungkan sang Pencipta alam raya saat menyaksikan keindahan semesta.Dari pembelajaran menggembala kambing ini, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari sana. Pertama, pelajaran kesabaran. Seorang penggembala tak bisa menjadi baik jika tak memiliki kesabaran saat menggembalakan kambingnya.Ratusan kambing yang digembalakan tentu membutuhkan kesabaran lebih yang membutuhkan waktu tak sebentar. Meski di sela padang rumput, namun kondisi alam di jazirah Arab yang panas mengharuskan penggembala memiliki kesabaran yang ekstra..Pelajaran kedua adalah pembelajaran menjadi seorang yang rendah hati atau tawadhu. Tentu saja ada sebagian masyarakat yang masih memandang sebelah mata terhadap pekerjaaan penggembala. Namun, Muhammad SAW tak melihat dengan kacamata yang sempit. Di balik pekerjaan sebagai penggembala terdapat hikmah yang besar dalam kehidupannya di masa yang akan datang.Pelajaran ketiga, belajar menjadi seorang pemberani. Hal ini terkait dengan rawannya hewan-hewan gembalaan itu diserang oleh binatang-binatang buas seperti ular dan lainnya yang mengincar kambing. Di sinilah dibutuhkan keberanian dari seorang penggembala untuk melindungi kambing-kambingnya dari gangguan binatang buas.

Ketika ia mencapai umur 20 tahun, Nabi Muhammad SAW. Menyertai pamannya dalam berbagai kegiatan termasuk berdagang, masa ini beliau telah mempelajari banyak ksempatan kepadanya untuk mempelajari urusan dagang dan ekonomi maupun segi-segi sifat manusia yang berbeda-beda,. Sepanjang masa ini ia memperlihatkan watak yang murni, dan sifat begitu yang dapat dipercaya sehingga orang-orang di sekelinngnya menamakanya orang yang dapat dipercaya atau al-amin. Ia menjadi terkenal dalam masyarakat mekkah karena sifat-sifatnya ini.

Reputasi ketulusan, kejujuran, keobyektektivan serta rasa keadilan inilah yang menyebabkan seorang pedagaang wanita mekkah yang kaya raya dan mulia, Khadijah, orang janda, meminnta Nabi Muhammad SAW. Untuk memimpin urusan-urusannya. Atas dorongan dan nasihat pamannya, Nabi  Muhammad SAW. Menerima tawaran itu. Wajahnya, wataknya,  sopan santunya dan urusan-uruanya itu begitu mengesankan bagi khadijah, sehingga khadijah melamarnya, lamarannya beliau terima, karena Khadijah adalah seseorang yang berwatak sangat mulia dan berjiwa luhur. Ketika mereka kawin. Nabi Muhammad SAW berumur 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.

 

 

0 komentar:

Posting Komentar

Movies

Movies Post

Diberdayakan oleh Blogger.

Sports

Music

Business

Games

Video

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Kategori

Movies

News

Latest News

Recent Post