BAB I
PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Diantara pemimpin- pemimpin pendidikan yang bermacam-macam dan tingkatanya, kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting, kalau tidak dapat dikatakan terpenting. Dikatakan sangat penting karena lebih dekat dan langsung berhubungan dengan pelaksanaan program pendidikan tiap-tiap sekolah. Dapat dilaksanakan atau tidaknya suatu program pendidikan dan tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan itu, sangat bergantung kecakapan dan kebijaksanaan kepala sekolah.
Supervisi sebagai salah satu fungsi pokok dalam administrasi pendidikan, bukan hanya merupakan tugas pekerjaan para pengawas, tetapi juga tugas kepala sekolah terhadap guru dan pegawai- pegawai sekolahnya. Guru merupakan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan program pendidikan. Ia merupakan unsur manusiawi yang sangat dekat hubunganya dengan anak didik dalam pelaksanaan pendidikan sehari-sehari disekolah dan banyak menetukan keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan pendidikan.
Potensi sumber daya manusia disekolah harus terus dibina dan dikembangkan secara terus menerus. Oleh karena itu diperlukan adanya supervisi pendidikan untuk mengawasi dan memperbaiki kegiatan-kegiatan sumber daya yang ada dalam sekolah tersebut.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan konsep penelitian diatas maka fokus penelitiannya yaitu:
Bagaimana Langkah- langkah dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
Bagaimana Problem dalam pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
Bagaimana Tehnik dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian diatas maka tujuan peneltian ini yaitu:
Untuk Mengetahui Bagaimana Langkah- langkah dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
Untuk Mengetahui Bagaimana Problem dalam pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
Untuk Mengetahui Bagaimana Tehnik dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Langkah- Langkah Dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan
Berdasarkan buku panduan Tugas Jabatan Fungsional Pengawas Pendidikan Agama dijelaskan bahwa langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam pelaksanaan kegiatan supervisi/pengawasan sekolah mencakup persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Persiapan
Kegiatan persiapan yang perlu dilakukan adalah menyusun program dan organisasi supervisi. Dalam supervisi hendaknya mencerminkan tentang jenis kegiatan, tujuan dan sasaran pelaksanaan, waktu, dan instrumen. Sementara dalam organisasi supervisi tecermin mekanisme pelaksanaan kegiatan, pelaporan, dan tindak lanjut. Untuk itu, guna menjamin kelancaran pelaksanaan kegiatan supervisi hendaknya pengawas melibatkan/ berkoordinasi dengan pejabat struktur terkait, kepala sekolah/madrasah, guru dan lainnya.
Pelaksanaan
Hal-hal pokok yang perlu mendapat perhatian pengawas dalam melaksanakan kegiatan supervisi, baik di sekolah umum maupun di madrasah adalah sebagai berikut.
Supervisi hendaknya dilakukan secara berkesinambungan.
Supervisi hendaknya dilakukan pada awal dan akhir caturwulan, hal tersebut dimaksudkan sebagai bahan perbandingan.
Pengawas terampil dalam menggunakan instrumen.
Mampu mengembangkan instrumen supervisi.
Supervisi bukan mencari kesalahan dan bukan pula menggurui, melainkan bersifat pemecahan masalah untuk mencari solusi.
Supervisi hendaknya mencakup segi teknis kependidikan dan teknik administrasi.
Pengawas hendaknya menguasai substansi materi yang disupervisi dan melengkapi diri dengan berbagai instrumen yang dibutukan.
Karena supervisi bersifat pembinaan, para supervisor harus memiliki kemampuan profesional dan wawasan yang luas tentang pendidikan agama Islam.
Dalam pelaksanaan supervisi prinsip KISS (Kooordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, dan Simplikasi) hendaknya diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Penilaian dan tindak lanjut
Penilaian. Penilaian yang dimaksud dalam kaitan ini adalah penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan supervisi meliputi keterbacaan dan keterlaksanaan program supervisi, keterbacaan dan kemantapan instrumen, hasil supervisi, dan kendala yang dihadapi.
Tindak Lanjut. Tindak lanjut dari kegiatan supervisi antara lain langkah-langkah pembinaan program supervisi selanjutnya
B. Problem Supervisi Pendidikan
Pelaksanaan supervisi sampai dewasa ini telah mengalami berbagai kemajuan, tetapi juga mengalami berbagai problem. Problem- problem yang dihadapi, menurut Ametembun, adalah sebagai berikut :
Perbedaan konsep inspeksi dan supervisi pendidikan.
Istilah inspeksi dan supervisi walaupun diterjemahkan dengan perkataan yang sama yakni pengawasan, tidak sama diartikan atau diinterpretasikan. Perbedaan kedua istilah itu dapat dilihat pada perbedaan fungsi.
Perbedaan fungsi
Inspeksi merupakan suatu position (kedudukan atau jabatan) dalam suatu instansi. Tugas utama dari inspeksi ini adalah sebagai pengawasan untuk sekolah-sekolah yang menitikberatkan pada pengontrolan atau pemeriksaan terhadap sekolah-sekolah tentang aturan-aturan, kebijaksanaan yang ditetapkan apakah sudah dijalankan sesuai harapan atau tidak. Sementara sasaran utamanya adalah mengoreksi kekurangan, kelemahan, atau kesalahan yang diperbuat sekolah. Sementara supervisi pendidikan adalah merupakan suatu fungsi atau tugas dalam pembinaan perbaikan atau peningkatan situasi pendidikan. Pembinaan sebagai pelayanan berupa bimbingan, tuntutan, perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu pengajaran dan belajar pada khususnya. Untuk itu, sasaran utama supervisi adalah situasi sebagaimana adanya, bertolak dari aspek-aspek positif (kebaikan, kemajuan).
Perbedaan prinsip
Prinsip inspeksi sebagai sistem kontrol dan berkedudukan sebagai kepemimpinan yang otokratik, penilik atau pengawas merasa dirinya lebih daripada yang diperiksa, harus mendominasi bawahannya sehingga inspeksi dalam hal ini ia hanya memperlihatkan power over (menguasai) orang yang diinspeksi. Sementara supervisi dilaksanakan berdasarkan prinsip demokratik yang dimotivasi oleh rasa cinta kasih, karena orang yang disupervisi dipandang sebagai sesama, rekan sejawat, yang bekerja sama untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Dengan demikian, supervisi dianggap memperlihatkan power with (merangkul).
Perbedaan terminologi
Sepanjang sejarah, pengawasan di Indonesia digunakan dengan berbagai istilah. Istilah-istilah ini digunakan dalam beberapa dekade sebagai berikut.
Pada 1970, istilah kantor inspeksi pendidikan menjadi kantor pembinaan dasar, menengah begitu juga petugas dan pejabat ikut mengalami perubahan sebutan.
Tahun 1975, istilah kabin pendidikan diubah menjadi Kandep P dan K. Istilah supervisor formal untuk pendidikan tingkat dasar disebut penilik dan istilah untuk pendidikan menengah disebut pengawas. Sementara tugasnya adalah mengadakan pengendalian, penilaian, dan supervisi.
Tahun 1980, diadakan penyempurnaan ortaker pengawasan, di mana pengawas diposisikan langsung bertanggung jawab kepada Kantor Wilayah Departemen P dan K di bawah koordinasi masing-masing kabid. Tugas para pengawas pada dekade ini disamakan, yaitu mengendalikan, menilai, dan mengadakan supervisi.
Perbedaan aktualisasi fungsi administrator dan supervisor pendidikan
Dalam hal ini, problem yang dihadapi supervisi adalah banyak salah tingkah dalam pelaksanaan, yakni apakah melaksanakan fungsi sebagai administrasi atau sebagai supervisor pendidikan. Lebih rumit lagi kalau kedua fungsi itu disatukan dan dilaksanakan. Untuk itu, administrasi orientasinya adalah mencakup pengaturan semua sektor, baik material, finansial, personel maupun operasional. Yaitu semua kegiatan dalam hubungan orang dengan barang, orang dengan orang baik individu maupun kelompok. Sementara Fungsi supervisor pendidikan adalah membina agar segala sesuatu itu berjalan lebih baik dan lebih lancar lagi. Dalam artian peningkatan atau pengembangan ke arah tercapainya tuiuan pendidikan.
Perbedaan konsepsional tentang kepemimpinan dan kekuasaan
Masalah yang dihadapi pada koridor ini adalah dilema tentang kepemimpinan dan kekuasaan serta pelaksanaannya. Apakah otokratik, apakah kepemimpinan bersama, apakah kepemimpinan tradisional? Manakah yang lebih efektif, kekuasaan diberikan kepada petugas untuk melaksanakan tugas-tugas pimpinan yang dipercayakan ataukah kekuasaan dibagi kepada anggota untuk melaksanakan bersama? Masalah ini, sering terjadi bahwa kadang-kadang kekuasaan yang diberikan itu tidak disertai dengan wewenang bertindak sehingga petugas yang diberi wewenang bukan hanya sulit untuk menjalankan, melainkan sering tidak mengetahui apa yang menjadi wewenang. Bahkan, banyak petugas yang menyalahgunakan kekuasaan karena tidak jelas.
Sementara problem-problem praktis yang dihadapi supervisor dalam melaksanakan kegiatan supervisi pada satuan lembaga pendidikan, khususnya supervisi di bidang pendidikan atau pengajaran dewasa ini makin kompleks. Para supervisor pendidikan dihadapkan kepada berbagai problem yang demikian kompleksnya di antaranya sebagai berikut:
Problem dan proporsinya
Suatu problem dapat menimbulkan hambatan tercapainya tujuan dan memerlukan pemecahan masalah. Kadang sesuatu hal tidak dianggap sebagai problem, karena hanya merupakan sebab timbulnya suatu problem. Untuk menanggulanginya supervisor perlu mengetahui sumber, aspek atau bidangnya, apakah menyangkut:
Bidang personel, yakni tenaga mengajar, tenaga administratif, murid, orangtua, masyarakat, ataukah supervisor sendiri.
Bidang material, yakni prasarana pendidikan, sarana-sarana pendidikan, transportasi, keuangan, dan sebagainya.
Bidang operasional, yakni proses kepemimpinan dan kepengawasan, pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan, pemeliharaan sarana prasarana pendidikan, prosedur kerja; mengajar dan belajar, pelaksanaan kurikulum dan jadwal pelajaran atau penggunaan keuangan dan sebagainya.Problem-problem ini harus ditempatkan pada porsinya masing-masing.
Beberapa problem praktis
Adapun problem-problem praktis yang terjadi pada supervisi pendidikan itu sebagai berikut.
Masalah kepemimpinan, yakni tipe kepemimpinan yang dikehendaki, bagaimana status supervisor, bagaimana cara kerja supervisor, bagaimana supervisor yang baru memulai tugas.
Masalah proses, yakni bagaimana membina kesanggupan- kesanggupan kelompok, bagaimana kekuasaan supervisor dalam kerja kelompok, apa yang dapat dilakukan kelompok untuk mewujudkan secara maksimal kesanggupan-kesanggupannya, bagaimana mengoordinasi kerja kelompok, bagaimana rapat- rapat supervisi diselenggarakan secara efektif.
Masalah hubungan insan, yakni bagaimana menciptakan rasa kepercayaan pada diri sendiri, bagaimana membina rasa saling percaya-memercayai dengan dan di antara orang-orang disupervisi, bagaimana membina kehormatan dalam staf, dan sebagainya.
Masalah administrasi personal, yakni bagaimana tenaga-tenaga staf pengajar dan tenaga-tenaga administratif atau bukan pengajar, bagaimana seleksi terhadap personal baru diselenggarakan, bagaimana wawancara penerimaan, dan sebagainya.
Masalah penilaian, yakni bagaimana membantu guru untuk menilai pekerjaannya, bagaimana guru dapat menilai pekerjaan, bagaimana membantu kelompok untuk menilai kemajuan dari prosedur kerjanya, bagaimana observasi kelas dilakukan, bagaimana pencatatan hasil observasi dilakukan, dan sebagainya.
Respons terhadap masalah supervisi
Dalam menghadapi masalah-masalah itu, supervisor hendaknya berpedoman pada prinsip sebagai berikut.
Berpedoman prinsip. Artinya, supervisor hendaknya selalu berpedoman pada prinsip-prinsip pendidikan dan prinsip- prinsip supervisi pendidikan, baik yang fundamental maupun yang praktis. Supervisi yang demokratis misalnya, mengikutsertakan semua pihak yang berkepentingan atau melalui wakil-wakilnya yang representatif, baik pembahasan maupun dalam menentukan penyelesaian terhadap problem- problem yang dihadapi.
Bekerja sistematik. Artinya supervisor sebagai tenaga profesional dalam menghadapi berbagai problem supervisi hendaklah bekerja secara sistematis, yakni mengumpulkan semua data yang merupakan masalah, mengumpulkan sebanyak mungkin sebab-sebab yang kiranya menimbulkan masalah, memilih dan mengklasifikasikan sebab-sebab yang kiranya dianggap berlaku dalam persoalan itu dan sebagainya.
Berpandangan sistem. Dalam menghadapi atau menangani problem-problem supervisi itu, supervisor harus berpandangan sistem, artinya memandang suatu problem secara keseluruhan, secara komprehensif.
C. Tehnik Supervisi Pendidikan
Salah satu sarana pendidikan yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah sekolah. Guru sebagai tenaga pengajar disekolah merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan secara terus-menerus. Potensi sumber daya guru harus terus berkembang agar dapat melaksanakan fungsinya secara profesional. Oleh karena itu, diperlukan adanya supervisi pendidikan untuk mengawasi dan memperbaiki proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.
Peningkatan ssumber daya guru dapat dilaksanankan dengan berbagai usaha dan alat (device), salah satunya dengan tehnik supervisi. Umumnya alat dan tehnik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu tehnik yang bersifat individual dan tehnik dan tehnik yang bersifat kelompok. Tehnik yang bersifat individual adalah tehnik dilaksanakan untuk seorang guru secara individual. Sedangkan tehnik yang bersifat kelompok adalah tehnik yang dilakukan untuk melayani lebih dari satu orang.
Tehnik individual
Tehnik yang bersifat individual terdiri dari beberapa poin berikut. :
Melakukan kunjungan kelas
Dalam hal ini kepala sekolah atau supervisior datang kedalam untuk melihat cara guru mengajar di kelas. Tujuannya, untuk memperoleh data mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar dikelas. Dengan data tersebut supervisior dapat mengetahui kesulitan yang dihadapi oleh para guru. Fungsi dari kunjungan kelas ini adalah sebagai alat untuk mendorong guru agar meningkatkan cara mengajar dan cara belajar siswa. Tehnik ini memiliki tiga macam perkunjungan kelas:
Perkunjungan tampa diberitahu ( unannounced visitation )
Perkunjungan dengan cara memberitahu terlebih dahulu ( announced visitation)
Perkunjungan atas undangan guru (visit upon invitation)
Melakukan interviu pribadi (individual conference)
Interviu pribadi ini dilakukan antara seorang supervisor dengan seorang guru, untuk membahas bagaimana mengajar yang baik.
Tujuan dari individual conference, adalah sebagai berikut:
Untuk memberikan kemungkinan pertunbuhan jabatan guru melakukan pemecahan kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Memupuk dan mengembankan hal mengajar yang lebih baik lagi.
Memperbaiki kelemahan- kelemahan dan kekurangan- kengurangan yang sering dialami oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah.
Menghilankan dan menghindari segala prasanka yang bukan-bukan.
Menurut Geoorge kyte ada dua jenis interviu melalui kunjungan kelas sebagai berikut.
Interview pribadi setelah kunjungan kelas (formal)
Interviu pribadi melalui percakapan biasa sehari-hari (informal)
Mengunjungi antarkelas (Intervisitation)
Menurut Sahertian,intervisitation adalah saling mengunjungi antara guru yang satu kepada guru yang lain yang sedang mengajar. Intervisitation ini memiliki kelebihan-kelebihan berikut.
Memberi kesempatan mengamati rekan lain yang saling memberi pelajaran
Membantu guru-guru yang ingin memperoleh pengalaman atau keterampilan tentang teknik dan metode mengajar serta berguna bagi guru-guru yang menghadapi kesulitan tertentu dalam mengajar.
Memberi motivasi yang terarah dan terhadap aktivitas mengajar.rekan guru mudah belajar dari temannya sendiri karena keakraban perhubungan atas dasar saling mengenal.
Sifat bawahan terhadap pemimpin terhadap halnya supervisor dan guru tidak ada sama sekali sehingga diskusi dapat berlangsung secara wajar dan mudah mencari penyelesaian sesuatu persoalan yang bersifat musyawarah.
Menilai Diri Sendiri (Self Evaluation Cbeck list)
Sebagai seorang tenaga pendidik yang profesional, guru harus dapat menilai kemampuandirinya sendiri terutama dalam menyajukan bahan pelajaran. Penilain terhadap diri sendiri merupakan teknik yang dapat membantu guru dalam pertumbuhannya.
Menurut Sahertian tipe dari alat ini dapat dipergunakan antara lain berupa :
Suatu daftar pandangan/pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas biasanya disususn dalam bentuk bertanya,baik secara tertutup maupun secara terbuka dan tidak perlu memakai nama.
Menganalisis tes-tes terhadap unit kerja
Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan (recor) baik mereka bekerja secara perorangan maupun secra kelompok
Tehnik Kolektif
Rapat guru
Rapat guru merupakan salah satu teknik supervisi yang berfungsi untuk memperbaiki situasi belajar mengajar. Setiap rapat atau pertemua pasti memiliki suatu tujuan.
Menyatukan pandangan guru tentang konsep umum,makna pendidikan dan fungsi sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan.
Mendorong guru untuk menerima dan melaksanakanntugas-tugasnya dengan baik dan mendorong pertumbuhan mereka
Menyatukan pendapat tentang metode kerja yang akan membawa mereka ke arah pencapaian tujuan pengajaran yang maksimal di sekolah.
Studi kelompok antar guru
Studi kelompok antar guru dilakukan oleh guru-guru dalam mata pelajaran yang sejenis. Mereka berkumpul untuk membahas dan mempelajari suatu atau sejumlah bahan pelajaran.
Lokakarya (Workshop)
Lokakarya adalah suatu usaha untuk mengembangkan kesanggupan berpikir dan bekerja bersama-sama baik mengenai masalah-masalah teoretis maupun praktis dengan maksud untuk meningkatkan kualitas hidup pada umumnya dan kualitas professional pada khususnya. Sementara, loka karya pendidikan adalah suatu kegiatan belajar kelompok yang terdiri dari petugas-petugas pendidikan yang memecahkan problema-problema yang dihadapi melalui percakapan dan bekerja secara kelompok maupun bersifat perseorangan.
Diskusi Panel
Diskusi panel atau forum discussion suatu bentuk diskusi yang dilakukan dihadapan sejumlah pertisipan atau pendengar, biasanya panel ini dilakukan untuk memeahakan suatu masalah, dan para penelitinya terdiri dari orang-orang yang dianggap ahli dalam lapangan yang didiskusikan. Dalam diskusi panel terdapat sejumlah orang yang berperan atara lain moderator,panelis,expert dan participant.masing-masing orang tersebut memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda.Moderator bertugas mengantar msalah yang akan didiskusikan,menstimulasi para panelis untuk mengetengahkan pendapat,mengontrol situasi bila terjadi ketegangan dan mengatur kontinuitas pemikiran serta pembicaraan supaya pembicaraan berlangsung secara teratur. Panelis merupakan orang-orang yang dianggap menguasai pengetahuan yang luas dibidangnya.panelis bertugas memberi pendapat atau tanggapan terhadap masalah yang dibahas. Expert adalah orang yang ahli di dalam bidangnya dan bersedia member penjelasan jika moderator meminta untuk memecahakan masalah yang sedang dibahas.
Demonstrasi Mengajar(Demonstration Teaching)
Teknik ini di katakan bersifat kelompokjika supervisor memberikan penjelasan kepada guru-guru tentang mengajar yang baik setelah seorang guru yang baik memberikan penjelasan kepada guru – guru yang dikunjungi sebelumnya. Sementara itu, dikatakan sebagai teknik yang bersifat perseorangan atau individu jika supervisor menggunakan suatu kelas dan meberikan penjelasan tentang teknik mengajar baik kepada seorang guru.
Buletin Supervisi
Bulletin supervisi merupakan salah satu alat komunikasi dalam bentuk tulisan dikeluarkan oleh staf supervisor yang dipergunakan sebagai alat untuk membantu guru-guru dalam memperbaiki situasi belajar-mengajar.
Mengikuti Kursus
Mengikuti kursus merupakan suatu alat yang dapat membantu guru mengembangkan pengetahuan profesi mengajar dan menambah keterampilan guru dalam memperlengkapi profesi mereka. Guru-guru yang mengikuti kursus ini diarahkan kepada dua hal, yaitu sebagai penyegaran dan sebagai usaha peningkatan pengetahuan keterampilan dan mengubah sikap tertentu.
Jika kursus ini bersifat memberikan penyegaran,tentunya guru-guru sudah mendapatkan pengetahuan itu. Maksudnya,pengetahuan yang sudah sering dapat perlu dilakukan penyegaran agar guru memiliki gairah dalam mengajar. Sementara,jika kursus itu bersifat penataran,guru-guru akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan tamabahan sehingga mereka akan mengalami peningkatan dalam profesi mereka.
Rapat sekolah
Seorang kepala sekolah menjalankan tugas dan perananya berdasarkan rencana strategis dan rencana opsional yang telah disusun setiap awal tahun. Pertemuan atau rapat sekolah sebabagi salah satu metode/tehnik supervisi pendidikan perlu mendapat perhatian dari setiap kepala sekolah. Memandang bahwa metode/tehnik ini dalam pelaksanaanya banyak hal yang dibicarakan maka harus diagendakan secara periodik dan berkala dengan jelas dan pada waktu yang tepat.
BAB III
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Lokasi Penelitian
1. Profil Sekolah
MI Babul Ilmi terletak di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di dusun Ceppunnge Desa Lemoape Kecamatan Palakka kira-kira 12 km dari Pusat Kota Watampone, Berada pada pusat pemerintahan desa dan disamping itu juga berada ditengah-tengah masyarakat yang lebih mengutamakan pendidikan dibidang Agama Islam. Lokasi yang berada diantara rumah-rumah Penduduk, tidak berpolusi udara dari asap padat kendaraan ,tidak bising kendaraan dan pabrik sehinggga nyaman untuk proses belajar mengajar, juga lokasi sekolah tidak Jauh dari Mesjid Jami’ An Nur, Musallah,PUSTU,Kantor Desa, Pasar, SMP Neg. 5 Palakka, MTs Anugrah Cingkang dan Jalan Alternatif menuju Kejalan Poros Ibu Kota Propinsi (Desa Usa) dari kecamatan Barebbo. Didesa yang ditempati sebagai Gedung sekolah MI Babul Ilmi, adalah merupakan daerah yang asri dan subur; oleh karena itu didesa ini adalah merupakan salah satu Desa penghasil sayur terbesar di Kab.Bone. MI Babul Ilmi Lemoape sebagai sekolah yang mempunyai visi misi yang sesuai dengan penyelenggaraan Pendidikan ini, berdiri sejak Tahun 1951, yang sudah memiliki kurang lebih 100 orang murid yang merupakan asset yang amat berpengaruh pada perkembangan madrasah.
MI Babul Ilmi Lemoape sampai sekarang ini adalah masih satu-satunya Madrasah yang ada di kecamatan Palakka, baik itu dari tingkat dasar,menengah Pertama, maupun menengah Atas.
Profil Kepala Sekolah (Madrasah)
Kepribadian yang begitu ramah dan sopan, itulah kepala Madrasah Ibtidaiyah Babul Ilmi Lemoape, beliau sangat berjasah dalam proses perkembangan madrasah ini. Berikut Biodata singkat beliau:
Nama lengkap : Marwan syah S.Pd.i
Nip : 197305282009011003
TTL : Lemoape, 28-05-1973
Ijasah Terakhir : S.1/2009
Alamat : Bulu Tempe
Beliau mulai bekerja sebagai kepala Madrasah di MI Babul Ilmi Lemoape pada tahun 2009, melanjutkan dari tugas bapaknya, yang sebelumya adalah kepala madrasah MI Babul Ilmi.
3. Keadaan guru dan tenaga kependidikan
Dari pandangan penulis keadaan guru dan tenaga cukup bagus untuk madrasah ini, karena ada 6 guru kelas, guru kelas ini mengajarkan semua mata pelajaran dikelas tempat ia ditugaskan. Cuman karena ada beberapa guru yang bukan dari latar belakang pendidikan agama islam, maka ditambah 3 guru bidang studi, guru bidang studi ini membantu guru kelas untuk mengajarkan mata pelajaran PAI, ditambah 1 Kepala Madrasah. Jadi jumlah keseluruhan guru adalah 10. Adapun staf dan tenaga lainya merangkap. Sembilan diantaranya adalah sarjana S.1 dan satu nya adalah sarjana Magister(s.2). adapun jumlah PNS, hanya satu yakni Kepala Madrasah Sendiri.
B. Paparan Data
Sebagai Madrasah Ibtidaiyah yang berada di Desa, Madrasah Ibtidaiyah Babul Ilmi, tidak jauh hebat dari dari MI yg ada diperkotaan, Bapak Mawrwansyah sebagai kepala Madrasah memang mengaku berusaha semaksimal mungkin untuk memajukan madrasah yang dipimpinnya ini. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kepala sekolah/ madrasah disamping sebagai administrator pandai mengatur dan bertanggung jawab tentang kelancaran jalanya sekolah sehari-hari juga adalah seorang supervisior. Seorang kepala sekolah bukanlah kepala kantor yang duduk dibelakang meja menandatangani surat-surat dan mengurus soal-soal administrasi semata. Jika itu yang dimaksud kepala sekolah atau pemimpin pendidikan alangkah enak dan mudahnya. Setiap orang kayaknya dapat dan sanggup menjadi kepala sekolah.
Contoh kecil yang dilakukan kepala madrsah ibtidaiyah babul ilmi. Dalam prakteknya sebagai kepala madrasah yang berada di pedesaan, yang mayoritas siswanya jalan kaki kesekolah, ketika beliau mensurvisi proses belajar mengajar dikelas, karena mayoritas siswa jalan kaki kesekolah, lantai sangat kotor karena sepatu siswa, jadi kepala madrasah mengambil kebijkan agar sebelum masuk dikelas sepatu siswa harus dibuka.
Kepala sekolah/madrasah memang harus cakap dalam mengambil keputusan sesuai dengan daerah tempat mereka melakukan tanggung jawabnya. Terutama dalam kenyamanan siswa dan guru.
Meski dalam guru madrasah ibtidaiyah kebanyakan honorernya, tapi tidak menjadi kendala untuk meningkatkan kualitas anak didiknya.
“kami senang belajar, kelas kami bersih, didalam kelas kami masing-masing punya map yang digantung di dinding kelas, tujuanya untuk menyimpan tugas individu kami”
Kata salah satu siswa kelas 3, saat penulis datang melihat kelas mereka.
Kelasnya memang sangat menarik, siswa duduk perkelompok, setiap kelas dilengkapi dengan lemari dan banyak peralatan lainya yang ditata rapi.
Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/penataan ruang kelasdan isinya, selama proses pembelajaran. Lingkungan kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya intereaksi yang aktif antara siswa dan guru, dan antar siswa.
Meski dalam pelaksanaan tugas nya sebagai supervisior di madrasahnya, sering melakukannya dengan cara tidak formal, biasanya kepala madrsah ibtidaiyyah babul ilmi lemoape menanyakan kepada guru dimadrasahnya jika terdapat kesalahan yang dilakukannya bahwa sebaiknya seperti ini, ketika mereka berada dalam kantor sedang istirahat.
Tehnik yang biasanya dilakukan oleh Pengawas , yg ingin mensupervisi akademik di MI Babul Ilmi adalah, tehnik kunjungan kelas dimana pengawas datang melihat proses mengajar guru dikelas, dalam proses supervisinya kepala Madrasah Ibtidaiyyah mengaku bahwa dirinya tidak pernah melakukan settingan dalam kegiatan supervisi disekolah.
”saya tidak pernah melakukan settingan jika ada pengawas yang datang di madrasah ini, kami sangat terbuka untuk di kritik, kalaupun ada kesalahan, pengawas akan memberikan kami masukan, agar kami lebih lagi, tidak seperti yang dilakukan sekolah-sekolah lain, biasanya kalau ada pengawas mau datang, mereka memang sudah mengaturnya, supaya tampil hebat dalam proses belajar mengajarnya, padahal proses seperti itu dilakukan hanya ketika ada pengawas”
Demikian kata pak Marwansyah saat kami temui beliau di ruanganya.
Sebagai kepala madrasah beliau cukup aktif dalam mengawasi kegiatan proses belajar mengajar dikelas, terbukti dari administrasi guru sangat lengkap dimadrasah ini.
Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa ada sejumlah sekolah yang melakukan settingan ketika ada pengawas? Ini terjadi karena pengawas yang seharusnya tidak hanya inspeksi atau mencari kesalahan-kesalahan guru maupun kepala madrasah, akibatnya guru dan kepala sekolah takut. Tetapi juga pengawas seharusnya memberikan bimbingan kepada guru. Sehingga tercipta suasana suvervisi tampa kebohongan. Dalam hal ini kepala madrasah MI Babul Ilmi mengaku bahwa pengawas yang sering datang mensupervisi dimadrasahnya, adalah pengawas yang selalu memberikan arahan ketika ada kesalahan atau kekeliruan, baik melalui supervis formal maupun nonformal
Sudah sewajarnya jika sekolah/madrasah dalam hal supervisi tidak boleh ada unsur bohong baik dari pihak supervisi maupun yang di supervisi, supervisi diadakan untuk meningkatkan kemapuan pendidik agar tujuan pendidikan dapat tercapai, jika dalam prosesnya tidak yang seperti teori, maka yakin dan pasti bahwa pendidikan kita akan tetap jalan ditempat, bahkan akan mengalami penurunan. Bukan sistem yang salah tetapi pelaksana sistemnya yang tidak sesuai.
Namun yang menjadi keluhan kepala madrasah ibtidaiyyah bahwa pengawas jangka waktunya terlalu lama baru datang kemadrasahnya. Namun beliau memaklumi karena pengawas madrasah ada beberapa yang mau diawasi, dan jarak antara madrasah yang satu dengan yang lainya cukup berjauhan.
Pengawas memang seharusnya lebih sering datang kesekolah/madrasah karena itu sudah menjadi tanggung jawab mereka, masalah jauhnya tempat sekolah/madrasah yang diawasi itu sudah menjadi resiko dari tanggung jawab. Pengawas satuan pendidikan adalah tenaga profesional berstatus PNS yang diangkat dan diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial melalui kegiatan pemantauan, penilaian, pembinaan, pelaporan dan tindak lanjut. Hal ini dilakukan pengawas disekolah atau madrasah yang merupakan binaanya.
Bantuan yang diberikan kepada guru harus berdasarkan penelitian atau pengamatan yang cermat dan penilaian yang objektif serta mendalam dengan acuan perencanaan program pembelajaran yang telah dibuat. Semua ini dapat terlaksana apabila pengawas aktif datang kesekolah/madrasah yang ia diberi tanggung jawab dan wewenang untuk di supervisi.
PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Diantara pemimpin- pemimpin pendidikan yang bermacam-macam dan tingkatanya, kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting, kalau tidak dapat dikatakan terpenting. Dikatakan sangat penting karena lebih dekat dan langsung berhubungan dengan pelaksanaan program pendidikan tiap-tiap sekolah. Dapat dilaksanakan atau tidaknya suatu program pendidikan dan tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan itu, sangat bergantung kecakapan dan kebijaksanaan kepala sekolah.
Supervisi sebagai salah satu fungsi pokok dalam administrasi pendidikan, bukan hanya merupakan tugas pekerjaan para pengawas, tetapi juga tugas kepala sekolah terhadap guru dan pegawai- pegawai sekolahnya. Guru merupakan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan program pendidikan. Ia merupakan unsur manusiawi yang sangat dekat hubunganya dengan anak didik dalam pelaksanaan pendidikan sehari-sehari disekolah dan banyak menetukan keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan pendidikan.
Potensi sumber daya manusia disekolah harus terus dibina dan dikembangkan secara terus menerus. Oleh karena itu diperlukan adanya supervisi pendidikan untuk mengawasi dan memperbaiki kegiatan-kegiatan sumber daya yang ada dalam sekolah tersebut.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan konsep penelitian diatas maka fokus penelitiannya yaitu:
Bagaimana Langkah- langkah dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
Bagaimana Problem dalam pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
Bagaimana Tehnik dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian diatas maka tujuan peneltian ini yaitu:
Untuk Mengetahui Bagaimana Langkah- langkah dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
Untuk Mengetahui Bagaimana Problem dalam pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
Untuk Mengetahui Bagaimana Tehnik dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Langkah- Langkah Dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan
Berdasarkan buku panduan Tugas Jabatan Fungsional Pengawas Pendidikan Agama dijelaskan bahwa langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam pelaksanaan kegiatan supervisi/pengawasan sekolah mencakup persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Persiapan
Kegiatan persiapan yang perlu dilakukan adalah menyusun program dan organisasi supervisi. Dalam supervisi hendaknya mencerminkan tentang jenis kegiatan, tujuan dan sasaran pelaksanaan, waktu, dan instrumen. Sementara dalam organisasi supervisi tecermin mekanisme pelaksanaan kegiatan, pelaporan, dan tindak lanjut. Untuk itu, guna menjamin kelancaran pelaksanaan kegiatan supervisi hendaknya pengawas melibatkan/ berkoordinasi dengan pejabat struktur terkait, kepala sekolah/madrasah, guru dan lainnya.
Pelaksanaan
Hal-hal pokok yang perlu mendapat perhatian pengawas dalam melaksanakan kegiatan supervisi, baik di sekolah umum maupun di madrasah adalah sebagai berikut.
Supervisi hendaknya dilakukan secara berkesinambungan.
Supervisi hendaknya dilakukan pada awal dan akhir caturwulan, hal tersebut dimaksudkan sebagai bahan perbandingan.
Pengawas terampil dalam menggunakan instrumen.
Mampu mengembangkan instrumen supervisi.
Supervisi bukan mencari kesalahan dan bukan pula menggurui, melainkan bersifat pemecahan masalah untuk mencari solusi.
Supervisi hendaknya mencakup segi teknis kependidikan dan teknik administrasi.
Pengawas hendaknya menguasai substansi materi yang disupervisi dan melengkapi diri dengan berbagai instrumen yang dibutukan.
Karena supervisi bersifat pembinaan, para supervisor harus memiliki kemampuan profesional dan wawasan yang luas tentang pendidikan agama Islam.
Dalam pelaksanaan supervisi prinsip KISS (Kooordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, dan Simplikasi) hendaknya diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Penilaian dan tindak lanjut
Penilaian. Penilaian yang dimaksud dalam kaitan ini adalah penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan supervisi meliputi keterbacaan dan keterlaksanaan program supervisi, keterbacaan dan kemantapan instrumen, hasil supervisi, dan kendala yang dihadapi.
Tindak Lanjut. Tindak lanjut dari kegiatan supervisi antara lain langkah-langkah pembinaan program supervisi selanjutnya
B. Problem Supervisi Pendidikan
Pelaksanaan supervisi sampai dewasa ini telah mengalami berbagai kemajuan, tetapi juga mengalami berbagai problem. Problem- problem yang dihadapi, menurut Ametembun, adalah sebagai berikut :
Perbedaan konsep inspeksi dan supervisi pendidikan.
Istilah inspeksi dan supervisi walaupun diterjemahkan dengan perkataan yang sama yakni pengawasan, tidak sama diartikan atau diinterpretasikan. Perbedaan kedua istilah itu dapat dilihat pada perbedaan fungsi.
Perbedaan fungsi
Inspeksi merupakan suatu position (kedudukan atau jabatan) dalam suatu instansi. Tugas utama dari inspeksi ini adalah sebagai pengawasan untuk sekolah-sekolah yang menitikberatkan pada pengontrolan atau pemeriksaan terhadap sekolah-sekolah tentang aturan-aturan, kebijaksanaan yang ditetapkan apakah sudah dijalankan sesuai harapan atau tidak. Sementara sasaran utamanya adalah mengoreksi kekurangan, kelemahan, atau kesalahan yang diperbuat sekolah. Sementara supervisi pendidikan adalah merupakan suatu fungsi atau tugas dalam pembinaan perbaikan atau peningkatan situasi pendidikan. Pembinaan sebagai pelayanan berupa bimbingan, tuntutan, perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu pengajaran dan belajar pada khususnya. Untuk itu, sasaran utama supervisi adalah situasi sebagaimana adanya, bertolak dari aspek-aspek positif (kebaikan, kemajuan).
Perbedaan prinsip
Prinsip inspeksi sebagai sistem kontrol dan berkedudukan sebagai kepemimpinan yang otokratik, penilik atau pengawas merasa dirinya lebih daripada yang diperiksa, harus mendominasi bawahannya sehingga inspeksi dalam hal ini ia hanya memperlihatkan power over (menguasai) orang yang diinspeksi. Sementara supervisi dilaksanakan berdasarkan prinsip demokratik yang dimotivasi oleh rasa cinta kasih, karena orang yang disupervisi dipandang sebagai sesama, rekan sejawat, yang bekerja sama untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Dengan demikian, supervisi dianggap memperlihatkan power with (merangkul).
Perbedaan terminologi
Sepanjang sejarah, pengawasan di Indonesia digunakan dengan berbagai istilah. Istilah-istilah ini digunakan dalam beberapa dekade sebagai berikut.
Pada 1970, istilah kantor inspeksi pendidikan menjadi kantor pembinaan dasar, menengah begitu juga petugas dan pejabat ikut mengalami perubahan sebutan.
Tahun 1975, istilah kabin pendidikan diubah menjadi Kandep P dan K. Istilah supervisor formal untuk pendidikan tingkat dasar disebut penilik dan istilah untuk pendidikan menengah disebut pengawas. Sementara tugasnya adalah mengadakan pengendalian, penilaian, dan supervisi.
Tahun 1980, diadakan penyempurnaan ortaker pengawasan, di mana pengawas diposisikan langsung bertanggung jawab kepada Kantor Wilayah Departemen P dan K di bawah koordinasi masing-masing kabid. Tugas para pengawas pada dekade ini disamakan, yaitu mengendalikan, menilai, dan mengadakan supervisi.
Perbedaan aktualisasi fungsi administrator dan supervisor pendidikan
Dalam hal ini, problem yang dihadapi supervisi adalah banyak salah tingkah dalam pelaksanaan, yakni apakah melaksanakan fungsi sebagai administrasi atau sebagai supervisor pendidikan. Lebih rumit lagi kalau kedua fungsi itu disatukan dan dilaksanakan. Untuk itu, administrasi orientasinya adalah mencakup pengaturan semua sektor, baik material, finansial, personel maupun operasional. Yaitu semua kegiatan dalam hubungan orang dengan barang, orang dengan orang baik individu maupun kelompok. Sementara Fungsi supervisor pendidikan adalah membina agar segala sesuatu itu berjalan lebih baik dan lebih lancar lagi. Dalam artian peningkatan atau pengembangan ke arah tercapainya tuiuan pendidikan.
Perbedaan konsepsional tentang kepemimpinan dan kekuasaan
Masalah yang dihadapi pada koridor ini adalah dilema tentang kepemimpinan dan kekuasaan serta pelaksanaannya. Apakah otokratik, apakah kepemimpinan bersama, apakah kepemimpinan tradisional? Manakah yang lebih efektif, kekuasaan diberikan kepada petugas untuk melaksanakan tugas-tugas pimpinan yang dipercayakan ataukah kekuasaan dibagi kepada anggota untuk melaksanakan bersama? Masalah ini, sering terjadi bahwa kadang-kadang kekuasaan yang diberikan itu tidak disertai dengan wewenang bertindak sehingga petugas yang diberi wewenang bukan hanya sulit untuk menjalankan, melainkan sering tidak mengetahui apa yang menjadi wewenang. Bahkan, banyak petugas yang menyalahgunakan kekuasaan karena tidak jelas.
Sementara problem-problem praktis yang dihadapi supervisor dalam melaksanakan kegiatan supervisi pada satuan lembaga pendidikan, khususnya supervisi di bidang pendidikan atau pengajaran dewasa ini makin kompleks. Para supervisor pendidikan dihadapkan kepada berbagai problem yang demikian kompleksnya di antaranya sebagai berikut:
Problem dan proporsinya
Suatu problem dapat menimbulkan hambatan tercapainya tujuan dan memerlukan pemecahan masalah. Kadang sesuatu hal tidak dianggap sebagai problem, karena hanya merupakan sebab timbulnya suatu problem. Untuk menanggulanginya supervisor perlu mengetahui sumber, aspek atau bidangnya, apakah menyangkut:
Bidang personel, yakni tenaga mengajar, tenaga administratif, murid, orangtua, masyarakat, ataukah supervisor sendiri.
Bidang material, yakni prasarana pendidikan, sarana-sarana pendidikan, transportasi, keuangan, dan sebagainya.
Bidang operasional, yakni proses kepemimpinan dan kepengawasan, pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan, pemeliharaan sarana prasarana pendidikan, prosedur kerja; mengajar dan belajar, pelaksanaan kurikulum dan jadwal pelajaran atau penggunaan keuangan dan sebagainya.Problem-problem ini harus ditempatkan pada porsinya masing-masing.
Beberapa problem praktis
Adapun problem-problem praktis yang terjadi pada supervisi pendidikan itu sebagai berikut.
Masalah kepemimpinan, yakni tipe kepemimpinan yang dikehendaki, bagaimana status supervisor, bagaimana cara kerja supervisor, bagaimana supervisor yang baru memulai tugas.
Masalah proses, yakni bagaimana membina kesanggupan- kesanggupan kelompok, bagaimana kekuasaan supervisor dalam kerja kelompok, apa yang dapat dilakukan kelompok untuk mewujudkan secara maksimal kesanggupan-kesanggupannya, bagaimana mengoordinasi kerja kelompok, bagaimana rapat- rapat supervisi diselenggarakan secara efektif.
Masalah hubungan insan, yakni bagaimana menciptakan rasa kepercayaan pada diri sendiri, bagaimana membina rasa saling percaya-memercayai dengan dan di antara orang-orang disupervisi, bagaimana membina kehormatan dalam staf, dan sebagainya.
Masalah administrasi personal, yakni bagaimana tenaga-tenaga staf pengajar dan tenaga-tenaga administratif atau bukan pengajar, bagaimana seleksi terhadap personal baru diselenggarakan, bagaimana wawancara penerimaan, dan sebagainya.
Masalah penilaian, yakni bagaimana membantu guru untuk menilai pekerjaannya, bagaimana guru dapat menilai pekerjaan, bagaimana membantu kelompok untuk menilai kemajuan dari prosedur kerjanya, bagaimana observasi kelas dilakukan, bagaimana pencatatan hasil observasi dilakukan, dan sebagainya.
Respons terhadap masalah supervisi
Dalam menghadapi masalah-masalah itu, supervisor hendaknya berpedoman pada prinsip sebagai berikut.
Berpedoman prinsip. Artinya, supervisor hendaknya selalu berpedoman pada prinsip-prinsip pendidikan dan prinsip- prinsip supervisi pendidikan, baik yang fundamental maupun yang praktis. Supervisi yang demokratis misalnya, mengikutsertakan semua pihak yang berkepentingan atau melalui wakil-wakilnya yang representatif, baik pembahasan maupun dalam menentukan penyelesaian terhadap problem- problem yang dihadapi.
Bekerja sistematik. Artinya supervisor sebagai tenaga profesional dalam menghadapi berbagai problem supervisi hendaklah bekerja secara sistematis, yakni mengumpulkan semua data yang merupakan masalah, mengumpulkan sebanyak mungkin sebab-sebab yang kiranya menimbulkan masalah, memilih dan mengklasifikasikan sebab-sebab yang kiranya dianggap berlaku dalam persoalan itu dan sebagainya.
Berpandangan sistem. Dalam menghadapi atau menangani problem-problem supervisi itu, supervisor harus berpandangan sistem, artinya memandang suatu problem secara keseluruhan, secara komprehensif.
C. Tehnik Supervisi Pendidikan
Salah satu sarana pendidikan yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah sekolah. Guru sebagai tenaga pengajar disekolah merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan secara terus-menerus. Potensi sumber daya guru harus terus berkembang agar dapat melaksanakan fungsinya secara profesional. Oleh karena itu, diperlukan adanya supervisi pendidikan untuk mengawasi dan memperbaiki proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.
Peningkatan ssumber daya guru dapat dilaksanankan dengan berbagai usaha dan alat (device), salah satunya dengan tehnik supervisi. Umumnya alat dan tehnik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu tehnik yang bersifat individual dan tehnik dan tehnik yang bersifat kelompok. Tehnik yang bersifat individual adalah tehnik dilaksanakan untuk seorang guru secara individual. Sedangkan tehnik yang bersifat kelompok adalah tehnik yang dilakukan untuk melayani lebih dari satu orang.
Tehnik individual
Tehnik yang bersifat individual terdiri dari beberapa poin berikut. :
Melakukan kunjungan kelas
Dalam hal ini kepala sekolah atau supervisior datang kedalam untuk melihat cara guru mengajar di kelas. Tujuannya, untuk memperoleh data mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar dikelas. Dengan data tersebut supervisior dapat mengetahui kesulitan yang dihadapi oleh para guru. Fungsi dari kunjungan kelas ini adalah sebagai alat untuk mendorong guru agar meningkatkan cara mengajar dan cara belajar siswa. Tehnik ini memiliki tiga macam perkunjungan kelas:
Perkunjungan tampa diberitahu ( unannounced visitation )
Perkunjungan dengan cara memberitahu terlebih dahulu ( announced visitation)
Perkunjungan atas undangan guru (visit upon invitation)
Melakukan interviu pribadi (individual conference)
Interviu pribadi ini dilakukan antara seorang supervisor dengan seorang guru, untuk membahas bagaimana mengajar yang baik.
Tujuan dari individual conference, adalah sebagai berikut:
Untuk memberikan kemungkinan pertunbuhan jabatan guru melakukan pemecahan kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Memupuk dan mengembankan hal mengajar yang lebih baik lagi.
Memperbaiki kelemahan- kelemahan dan kekurangan- kengurangan yang sering dialami oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah.
Menghilankan dan menghindari segala prasanka yang bukan-bukan.
Menurut Geoorge kyte ada dua jenis interviu melalui kunjungan kelas sebagai berikut.
Interview pribadi setelah kunjungan kelas (formal)
Interviu pribadi melalui percakapan biasa sehari-hari (informal)
Mengunjungi antarkelas (Intervisitation)
Menurut Sahertian,intervisitation adalah saling mengunjungi antara guru yang satu kepada guru yang lain yang sedang mengajar. Intervisitation ini memiliki kelebihan-kelebihan berikut.
Memberi kesempatan mengamati rekan lain yang saling memberi pelajaran
Membantu guru-guru yang ingin memperoleh pengalaman atau keterampilan tentang teknik dan metode mengajar serta berguna bagi guru-guru yang menghadapi kesulitan tertentu dalam mengajar.
Memberi motivasi yang terarah dan terhadap aktivitas mengajar.rekan guru mudah belajar dari temannya sendiri karena keakraban perhubungan atas dasar saling mengenal.
Sifat bawahan terhadap pemimpin terhadap halnya supervisor dan guru tidak ada sama sekali sehingga diskusi dapat berlangsung secara wajar dan mudah mencari penyelesaian sesuatu persoalan yang bersifat musyawarah.
Menilai Diri Sendiri (Self Evaluation Cbeck list)
Sebagai seorang tenaga pendidik yang profesional, guru harus dapat menilai kemampuandirinya sendiri terutama dalam menyajukan bahan pelajaran. Penilain terhadap diri sendiri merupakan teknik yang dapat membantu guru dalam pertumbuhannya.
Menurut Sahertian tipe dari alat ini dapat dipergunakan antara lain berupa :
Suatu daftar pandangan/pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas biasanya disususn dalam bentuk bertanya,baik secara tertutup maupun secara terbuka dan tidak perlu memakai nama.
Menganalisis tes-tes terhadap unit kerja
Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan (recor) baik mereka bekerja secara perorangan maupun secra kelompok
Tehnik Kolektif
Rapat guru
Rapat guru merupakan salah satu teknik supervisi yang berfungsi untuk memperbaiki situasi belajar mengajar. Setiap rapat atau pertemua pasti memiliki suatu tujuan.
Menyatukan pandangan guru tentang konsep umum,makna pendidikan dan fungsi sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan.
Mendorong guru untuk menerima dan melaksanakanntugas-tugasnya dengan baik dan mendorong pertumbuhan mereka
Menyatukan pendapat tentang metode kerja yang akan membawa mereka ke arah pencapaian tujuan pengajaran yang maksimal di sekolah.
Studi kelompok antar guru
Studi kelompok antar guru dilakukan oleh guru-guru dalam mata pelajaran yang sejenis. Mereka berkumpul untuk membahas dan mempelajari suatu atau sejumlah bahan pelajaran.
Lokakarya (Workshop)
Lokakarya adalah suatu usaha untuk mengembangkan kesanggupan berpikir dan bekerja bersama-sama baik mengenai masalah-masalah teoretis maupun praktis dengan maksud untuk meningkatkan kualitas hidup pada umumnya dan kualitas professional pada khususnya. Sementara, loka karya pendidikan adalah suatu kegiatan belajar kelompok yang terdiri dari petugas-petugas pendidikan yang memecahkan problema-problema yang dihadapi melalui percakapan dan bekerja secara kelompok maupun bersifat perseorangan.
Diskusi Panel
Diskusi panel atau forum discussion suatu bentuk diskusi yang dilakukan dihadapan sejumlah pertisipan atau pendengar, biasanya panel ini dilakukan untuk memeahakan suatu masalah, dan para penelitinya terdiri dari orang-orang yang dianggap ahli dalam lapangan yang didiskusikan. Dalam diskusi panel terdapat sejumlah orang yang berperan atara lain moderator,panelis,expert dan participant.masing-masing orang tersebut memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda.Moderator bertugas mengantar msalah yang akan didiskusikan,menstimulasi para panelis untuk mengetengahkan pendapat,mengontrol situasi bila terjadi ketegangan dan mengatur kontinuitas pemikiran serta pembicaraan supaya pembicaraan berlangsung secara teratur. Panelis merupakan orang-orang yang dianggap menguasai pengetahuan yang luas dibidangnya.panelis bertugas memberi pendapat atau tanggapan terhadap masalah yang dibahas. Expert adalah orang yang ahli di dalam bidangnya dan bersedia member penjelasan jika moderator meminta untuk memecahakan masalah yang sedang dibahas.
Demonstrasi Mengajar(Demonstration Teaching)
Teknik ini di katakan bersifat kelompokjika supervisor memberikan penjelasan kepada guru-guru tentang mengajar yang baik setelah seorang guru yang baik memberikan penjelasan kepada guru – guru yang dikunjungi sebelumnya. Sementara itu, dikatakan sebagai teknik yang bersifat perseorangan atau individu jika supervisor menggunakan suatu kelas dan meberikan penjelasan tentang teknik mengajar baik kepada seorang guru.
Buletin Supervisi
Bulletin supervisi merupakan salah satu alat komunikasi dalam bentuk tulisan dikeluarkan oleh staf supervisor yang dipergunakan sebagai alat untuk membantu guru-guru dalam memperbaiki situasi belajar-mengajar.
Mengikuti Kursus
Mengikuti kursus merupakan suatu alat yang dapat membantu guru mengembangkan pengetahuan profesi mengajar dan menambah keterampilan guru dalam memperlengkapi profesi mereka. Guru-guru yang mengikuti kursus ini diarahkan kepada dua hal, yaitu sebagai penyegaran dan sebagai usaha peningkatan pengetahuan keterampilan dan mengubah sikap tertentu.
Jika kursus ini bersifat memberikan penyegaran,tentunya guru-guru sudah mendapatkan pengetahuan itu. Maksudnya,pengetahuan yang sudah sering dapat perlu dilakukan penyegaran agar guru memiliki gairah dalam mengajar. Sementara,jika kursus itu bersifat penataran,guru-guru akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan tamabahan sehingga mereka akan mengalami peningkatan dalam profesi mereka.
Rapat sekolah
Seorang kepala sekolah menjalankan tugas dan perananya berdasarkan rencana strategis dan rencana opsional yang telah disusun setiap awal tahun. Pertemuan atau rapat sekolah sebabagi salah satu metode/tehnik supervisi pendidikan perlu mendapat perhatian dari setiap kepala sekolah. Memandang bahwa metode/tehnik ini dalam pelaksanaanya banyak hal yang dibicarakan maka harus diagendakan secara periodik dan berkala dengan jelas dan pada waktu yang tepat.
BAB III
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Lokasi Penelitian
1. Profil Sekolah
MI Babul Ilmi terletak di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di dusun Ceppunnge Desa Lemoape Kecamatan Palakka kira-kira 12 km dari Pusat Kota Watampone, Berada pada pusat pemerintahan desa dan disamping itu juga berada ditengah-tengah masyarakat yang lebih mengutamakan pendidikan dibidang Agama Islam. Lokasi yang berada diantara rumah-rumah Penduduk, tidak berpolusi udara dari asap padat kendaraan ,tidak bising kendaraan dan pabrik sehinggga nyaman untuk proses belajar mengajar, juga lokasi sekolah tidak Jauh dari Mesjid Jami’ An Nur, Musallah,PUSTU,Kantor Desa, Pasar, SMP Neg. 5 Palakka, MTs Anugrah Cingkang dan Jalan Alternatif menuju Kejalan Poros Ibu Kota Propinsi (Desa Usa) dari kecamatan Barebbo. Didesa yang ditempati sebagai Gedung sekolah MI Babul Ilmi, adalah merupakan daerah yang asri dan subur; oleh karena itu didesa ini adalah merupakan salah satu Desa penghasil sayur terbesar di Kab.Bone. MI Babul Ilmi Lemoape sebagai sekolah yang mempunyai visi misi yang sesuai dengan penyelenggaraan Pendidikan ini, berdiri sejak Tahun 1951, yang sudah memiliki kurang lebih 100 orang murid yang merupakan asset yang amat berpengaruh pada perkembangan madrasah.
MI Babul Ilmi Lemoape sampai sekarang ini adalah masih satu-satunya Madrasah yang ada di kecamatan Palakka, baik itu dari tingkat dasar,menengah Pertama, maupun menengah Atas.
Profil Kepala Sekolah (Madrasah)
Kepribadian yang begitu ramah dan sopan, itulah kepala Madrasah Ibtidaiyah Babul Ilmi Lemoape, beliau sangat berjasah dalam proses perkembangan madrasah ini. Berikut Biodata singkat beliau:
Nama lengkap : Marwan syah S.Pd.i
Nip : 197305282009011003
TTL : Lemoape, 28-05-1973
Ijasah Terakhir : S.1/2009
Alamat : Bulu Tempe
Beliau mulai bekerja sebagai kepala Madrasah di MI Babul Ilmi Lemoape pada tahun 2009, melanjutkan dari tugas bapaknya, yang sebelumya adalah kepala madrasah MI Babul Ilmi.
3. Keadaan guru dan tenaga kependidikan
Dari pandangan penulis keadaan guru dan tenaga cukup bagus untuk madrasah ini, karena ada 6 guru kelas, guru kelas ini mengajarkan semua mata pelajaran dikelas tempat ia ditugaskan. Cuman karena ada beberapa guru yang bukan dari latar belakang pendidikan agama islam, maka ditambah 3 guru bidang studi, guru bidang studi ini membantu guru kelas untuk mengajarkan mata pelajaran PAI, ditambah 1 Kepala Madrasah. Jadi jumlah keseluruhan guru adalah 10. Adapun staf dan tenaga lainya merangkap. Sembilan diantaranya adalah sarjana S.1 dan satu nya adalah sarjana Magister(s.2). adapun jumlah PNS, hanya satu yakni Kepala Madrasah Sendiri.
B. Paparan Data
Sebagai Madrasah Ibtidaiyah yang berada di Desa, Madrasah Ibtidaiyah Babul Ilmi, tidak jauh hebat dari dari MI yg ada diperkotaan, Bapak Mawrwansyah sebagai kepala Madrasah memang mengaku berusaha semaksimal mungkin untuk memajukan madrasah yang dipimpinnya ini. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kepala sekolah/ madrasah disamping sebagai administrator pandai mengatur dan bertanggung jawab tentang kelancaran jalanya sekolah sehari-hari juga adalah seorang supervisior. Seorang kepala sekolah bukanlah kepala kantor yang duduk dibelakang meja menandatangani surat-surat dan mengurus soal-soal administrasi semata. Jika itu yang dimaksud kepala sekolah atau pemimpin pendidikan alangkah enak dan mudahnya. Setiap orang kayaknya dapat dan sanggup menjadi kepala sekolah.
Contoh kecil yang dilakukan kepala madrsah ibtidaiyah babul ilmi. Dalam prakteknya sebagai kepala madrasah yang berada di pedesaan, yang mayoritas siswanya jalan kaki kesekolah, ketika beliau mensurvisi proses belajar mengajar dikelas, karena mayoritas siswa jalan kaki kesekolah, lantai sangat kotor karena sepatu siswa, jadi kepala madrasah mengambil kebijkan agar sebelum masuk dikelas sepatu siswa harus dibuka.
Kepala sekolah/madrasah memang harus cakap dalam mengambil keputusan sesuai dengan daerah tempat mereka melakukan tanggung jawabnya. Terutama dalam kenyamanan siswa dan guru.
Meski dalam guru madrasah ibtidaiyah kebanyakan honorernya, tapi tidak menjadi kendala untuk meningkatkan kualitas anak didiknya.
“kami senang belajar, kelas kami bersih, didalam kelas kami masing-masing punya map yang digantung di dinding kelas, tujuanya untuk menyimpan tugas individu kami”
Kata salah satu siswa kelas 3, saat penulis datang melihat kelas mereka.
Kelasnya memang sangat menarik, siswa duduk perkelompok, setiap kelas dilengkapi dengan lemari dan banyak peralatan lainya yang ditata rapi.
Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/penataan ruang kelasdan isinya, selama proses pembelajaran. Lingkungan kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya intereaksi yang aktif antara siswa dan guru, dan antar siswa.
Meski dalam pelaksanaan tugas nya sebagai supervisior di madrasahnya, sering melakukannya dengan cara tidak formal, biasanya kepala madrsah ibtidaiyyah babul ilmi lemoape menanyakan kepada guru dimadrasahnya jika terdapat kesalahan yang dilakukannya bahwa sebaiknya seperti ini, ketika mereka berada dalam kantor sedang istirahat.
Tehnik yang biasanya dilakukan oleh Pengawas , yg ingin mensupervisi akademik di MI Babul Ilmi adalah, tehnik kunjungan kelas dimana pengawas datang melihat proses mengajar guru dikelas, dalam proses supervisinya kepala Madrasah Ibtidaiyyah mengaku bahwa dirinya tidak pernah melakukan settingan dalam kegiatan supervisi disekolah.
”saya tidak pernah melakukan settingan jika ada pengawas yang datang di madrasah ini, kami sangat terbuka untuk di kritik, kalaupun ada kesalahan, pengawas akan memberikan kami masukan, agar kami lebih lagi, tidak seperti yang dilakukan sekolah-sekolah lain, biasanya kalau ada pengawas mau datang, mereka memang sudah mengaturnya, supaya tampil hebat dalam proses belajar mengajarnya, padahal proses seperti itu dilakukan hanya ketika ada pengawas”
Demikian kata pak Marwansyah saat kami temui beliau di ruanganya.
Sebagai kepala madrasah beliau cukup aktif dalam mengawasi kegiatan proses belajar mengajar dikelas, terbukti dari administrasi guru sangat lengkap dimadrasah ini.
Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa ada sejumlah sekolah yang melakukan settingan ketika ada pengawas? Ini terjadi karena pengawas yang seharusnya tidak hanya inspeksi atau mencari kesalahan-kesalahan guru maupun kepala madrasah, akibatnya guru dan kepala sekolah takut. Tetapi juga pengawas seharusnya memberikan bimbingan kepada guru. Sehingga tercipta suasana suvervisi tampa kebohongan. Dalam hal ini kepala madrasah MI Babul Ilmi mengaku bahwa pengawas yang sering datang mensupervisi dimadrasahnya, adalah pengawas yang selalu memberikan arahan ketika ada kesalahan atau kekeliruan, baik melalui supervis formal maupun nonformal
Sudah sewajarnya jika sekolah/madrasah dalam hal supervisi tidak boleh ada unsur bohong baik dari pihak supervisi maupun yang di supervisi, supervisi diadakan untuk meningkatkan kemapuan pendidik agar tujuan pendidikan dapat tercapai, jika dalam prosesnya tidak yang seperti teori, maka yakin dan pasti bahwa pendidikan kita akan tetap jalan ditempat, bahkan akan mengalami penurunan. Bukan sistem yang salah tetapi pelaksana sistemnya yang tidak sesuai.
Namun yang menjadi keluhan kepala madrasah ibtidaiyyah bahwa pengawas jangka waktunya terlalu lama baru datang kemadrasahnya. Namun beliau memaklumi karena pengawas madrasah ada beberapa yang mau diawasi, dan jarak antara madrasah yang satu dengan yang lainya cukup berjauhan.
Pengawas memang seharusnya lebih sering datang kesekolah/madrasah karena itu sudah menjadi tanggung jawab mereka, masalah jauhnya tempat sekolah/madrasah yang diawasi itu sudah menjadi resiko dari tanggung jawab. Pengawas satuan pendidikan adalah tenaga profesional berstatus PNS yang diangkat dan diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial melalui kegiatan pemantauan, penilaian, pembinaan, pelaporan dan tindak lanjut. Hal ini dilakukan pengawas disekolah atau madrasah yang merupakan binaanya.
Bantuan yang diberikan kepada guru harus berdasarkan penelitian atau pengamatan yang cermat dan penilaian yang objektif serta mendalam dengan acuan perencanaan program pembelajaran yang telah dibuat. Semua ini dapat terlaksana apabila pengawas aktif datang kesekolah/madrasah yang ia diberi tanggung jawab dan wewenang untuk di supervisi.
0 komentar:
Posting Komentar